Menggapai Dasar LuwengMendung masih terlihat menggantung di langit dusun Petung, sebuah dusun yang berada di desa Kalak, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dusun di ujung barat kabupaten Pacitan ini tampak gelisah dipermainkan musim, meski hijau dedaunan mulai menampakkan diri dipunggung bukit-bukit kerucut yang terhampar disekelilingnya.
Pagi, awal Februari 2007, dusun yang terdiri dari 65 KK tersebut masih diselimuti sepi, jejak-jejak hujan semalam masih terbaca jelas di tanah yang basah. Beberapa orang terlihat berjalan kaki menyusuri jalan dusun sambil membawa bumbung yang telah penuh terisi nira. Kesunyian itu tak bertahan lama ketika kendaraan bermotor yang kami tumpangi melintas, beberapa pasang mata menatap ramah, kami membalas dengan sapaan khas masyarakat jawa sambil sedikit menganggukkan kepala “monggo pak..”, mereka pun segera tersenyum mempersilahkan. Tak ada ekspresi heran dari wajah-wajah itu, meskipun rombongan kami yang berjumlah 16 orang berpenampilan cukup aneh, setidaknya bagi masyarakat awam di tempat lain.
Di belakang kami, senyum Pak Sarno masih tersungging di bibirnya, lelaki yang baru kami kenal pagi tadi masih terlihat bugar, rambutnya yang telah memutih tak mampu menyembunyikan usianya yang mendekati 73 tahun. Pagi tadi, lelaki ramah ini menerima kedatangan kami diruang tamunya, dengan senang hati kepala dusun yang telah menjabat sejak 1964 ini menawarkan rumahnya sebagai basecamp kegiatan kami hingga hari minggu besok, dari Pak Sarno pula kami mengetahui bahwa rumah beliau telah berulang kali dijadikan basecamp para penelusur goa sejak tahun 1980-an silam.
Goa yang menjadi tujuan perjalanan kami ternyata terletak tepat di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kediaman Pak Sarno. Diameter mulutnya cukup lebar, mencapai ± 30 meter, tak mengherankan jika orang-orang menamakan goa ini Luweng Ombo (Luweng = istilah masyarakat setempat untuk menyebut goa vertikal, Ombo = lebar/luas). Dasar Luweng Ombo terlihat jelas dari atas, informasi yang menyebutkan kedalaman luweng ini mencapai 100 meteran memang tidak berlebihan, warna kehijauan yang terhampar jauh di bawah sana membuat kami tidak berani menyimpulkan apakah itu hamparan rumput atau pepohonan? Dalam hati kami berharap warna kehijauan itu adalah rumput.
Matahari sudah hampir mencapai puncak panasnya, jam tangan menunjukkan pukul 10.30 wib, lintasan tali untuk turun ke dasar luweng mulai dipasang oleh riggingman (orang yang bertanggungjawab sebagai pembuat lintasan) dibantu oleh seorang asistennya. Kami menyiapkan 2 lintasan sekaligus, sehingga 4 orang terlihat sibuk menambatkan tali. Berbagai perhitungan dilakukan untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin, toleransi kesalahan kali ini adalah nol, kami menyadari sepenuhnya, sedikit saja ada kesalahan dalam pembuatan lintasan, keselamatan anggota tim menjadi taruhannya. Berbekal kemampuan teknik dan jam terbang yang kami miliki dilapangan, dengan penuh kehati-hatian akhirnya lintasan siap digunakan satu setengah jam berikutnya.
Panas matahari begitu menyengat ketika 2 orang pertama mulai menuruni lintasan tali dengan menggunakan descendeur. Meter demi meter dilalui dengan detakan jantung yang lebih keras dari biasanya. Adrenalin mulai merambat perlahan memenuhi darah muda kami. Tatapan mata rekan-rekan yang berada di bibir luweng mengiringi dengan cemas, beberapa diantaranya sempat melemparkan senyum yang terlihat kecut. Menit-menit berlalu begitu lambat, 2 orang pertama yang menuruni tali terlihat semakin jauh dan semakin mengecil, tak lebih besar dari kepala korek api.
Walky talkie yang menjadi alat komunikasi satu-satunya terus berbunyi bersahutan, “tali kedua mulai disambung…”, leader menginformasikan secara detail setiap tahapan yang dikerjakannya, tim yang berada diatas memantau dengan penuh perhatian.
“Rope freee….” Terdengar aba-aba dari leader melalui walkie talkie 30 menit kemudian, menandakan bahwa lintasan telah bebas dan siap digunakan oleh 2 orang berikutnya. Begitulah, secara berpasangan kami susul menyusul meniti tali kernmantel (jenis tali yang terbuat dari anyaman nilon) dengan diameter 10,5 milimeter menuju dasar Luweng Ombo.
Hari menjelang gelap, ketika orang terakhir menjejakkan kakinya di dasar luweng. 14 orang yang telah berada di dasar sebelumnya terlihat bergerombol jauh dari lintasan tali, berlindung ditempat yang aman dari kemungkinan runtuhan bebatuan yang sering terjadi sekitar mulut luweng. Sesampai didasar luweng, jawaban tentang hamparan warna hijau yang terlihat dari permukaan sebelumnya terpampang jelas, dan bukan rumput, melainkan pepohonan dengan ketinggian berkisar 7-12 meteran, dengan semak-semak cukup lebat di sela-selanya. Hasil pengukuran kami dengan menggunakan topofil (alat ukur jarak) menunjukkan luweng Ombo memiliki kedalaman 110,04 meter, hampir mendekati goa butiung (117 meter) yang merupakan goa single pitch terdalam di Jawa yang terletak di kabupaten Gunungkidul
Dasar Luweng Ombo, ternyata tidaklah sedatar seperti yang terlihat dari atas, lantai yang dipenuhi reruntuhan boulder besar (bongkahan batu) tersebut memiliki kemiringan mendekati 70˚, Reruntuhan bongkah-bongkah besar yang memenuhi dasar Luweng Ombo secara tidak langsung menunjukkan betapa besarnya kekuatan alam yang menyebabkan sebuah lahan runtuh secara tiba-tiba, membentuk ruangan besar dibawah tanah menyerupai gentong yang dipotong dasarnya secara diagonal. Reruntuhan ini memotong sebuah sungai bawah tanah yang kami perkirakan telah ada sebelumnya, meskipun keberadaan sungai ini tidak kami lihat secara langsung, namun dengan jelas kami menangkap suara gemuruh aliran air yang cukup deras dibawah reruntuhan yang menjadi tempat kami berpijak didasar luweng.
Rasa ingin tahu menuntun kami untuk menyusuri lantai yang cukup curam di dasar luweng, menuju sebuah lorong yang terlihat diujung sana. Luasnya dasar luweng Ombo membuat penelusuran kali ini lebih mirip downhill disebuah lereng gunung daripada didasar goa. Keadaan sekeliling sudah berubah menjadi gelap sama sekali , memaksa kami menggunakan headlamp dan lampu karbit guna menerangi rute yang sedang ditempuh. Jauh diatas sana, langit yang diterangi bias cahaya bulan terlihat samar-samar, dibatasi garis hitam pekat bagai frame yang dihasilkan oleh sillhoutte dinding luweng.
Aktivitas ekplorasi kami terhenti oleh sebuah bidang tegak sedalam 7 meteran yang berada di ujung kemiringan lantai dasar luweng Ombo. Habisnya persediaan tali yang kami bawa tidak menyisakan kesempatan untuk melihat lebih jauh lorong yang masih membentang didepan sana. Akhirnya tubuh yang lelah setelah menuruni medan vertikal 110 meter dan menuruni lereng yang cukup terjal, membuat kami kembali ke tempat peristirahatan di dekat tali lintasan. Rasa lapar yang mulai melilit mendorong kami untuk segera menyantap bekal yang kami bawa.
Hampir tengah malam, ketika 2 orang pertama memutuskan untuk mulai naik ke permukaan. Menggunakan sepasang ascendeur yang terpasang didada dan digenggaman tangan, mereka mulai meniti tali. Seperti perjalanan turun sebelumnya, keringat mulai membanjiri seluruh tubuh, rasa takut sempat menyelinap ketika menyadari semakin lama semakin jauh dari dasar, sebuah keadaan yang memaksa setiap orang berpikir tentang akibat paling fatal jika jatuh bebas dan membentur bumi dengan keras, keadaan yang membuat setiap orang merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Hampir 60 menit lamanya mereka bergelantungan ditali menantang gravitasi, hingga akhirnya berhasil mencapai mulut goa. Wajah lega segera menyelimuti keduanya, sepatah kata syukur dan pujian pada Ilahi terlontar begitu saja tanpa mereka sadari. Rekan-rekan yang masih ada dibawah sana kemudian menyusul naik secara berpasangan, orang terakhir yang keluar dari luweng tiba di permukaan ketika fajar mulai merekah di ufuk timur.
Barometer masa silamLuweng Ombo yang terletak di ujung timur dusun Petung, menjadi simbol perbatasan dusun tersebut dengan dusun Klepu yang berada di sebelahnya. Berdasarkan keterangan Pak Sarno, kepala dusun setempat, pertama kali luweng ini di telusuri oleh 6 orang penelusur goa yang berasal dari Mapala UI, tahun 1982 silam. Hal ini dikuatkan lebih lanjut oleh keterangan Pak Sokiran (53 tahun), warga dusun Klepu yang menjadi pemilik lahan dimana lokasi Luweng Ombo berada.
Rombongan penelusur goa tersebut diketuai oleh Norman Edwin (alm), pada kunjungan pertamanya, ternyata Norman berserta rekan-rekannya cukup berhasil menarik simpati masyarakat sehingga dengan antusias mereka berdatangan dan membantu tim ini untuk dapat mengoak misteri yang ada didasar Luweng Ombo, tim ini akhirnya berhasil menjejakkan kakinya di dasar luweng Ombo meskipun beberapa orang di antaranya sempat muntah-muntah setelah bergantungan di kedalaman puluhan meter.
Keberhasilan Norman Edwin beserta rekan-rekannya memicu kelompok penelusur lain dari berbagai daerah untuk mendatangi dan mencoba menelusuri Luweng tersebut. Sejak saat itu, Luweng Ombo menjadi “kiblat” dalam dunia penelusuran goa era tahun 80-an, selain Luweng Songo dan Goa Jaran, jauh sebelum Goa Leangputte (273 meter) ditemukan di belantara Sulawesi oleh tim ekspedisi gabungan Anglo Australian, pada tahun 1992. Norman sendiri, pasca keberhasilan timnya menjadi tim pertama yang masuk ke Luweng Ombo, sempat 2 kali lagi mengunjungi luweng tersebut sebelum meninggal dunia di Aconcaqua, Argentina.
Pada tahun 1998, jalan dusun yang sebelumnya masih berupa jalan berbatu, mulai di aspal oleh pemerintah. Hal ini disambut gembira oleh penduduk setempat. Setidaknya, masyarakat dusun yang sebagaian besar berprofesi sebagai petani dan pembuat gula kelapa ini berharap pembangunan jalan tersebut dapat memudahkan para pembeli untuk datang ke dusun mereka. Seiring dengan kemudahan akses menuju dusun Petung, frekwensi penelusur goa yang mengunjungi Luweng Ombo juga semakin meningkat, dan mencapai puncaknya pada peringatan kemerdekaan di setiap bulan Agustus.
Kini, Luweng Ombo tidak lagi ramai dikunjungi seperti dulu. Setidaknya dalam setahun rata-rata hanya 3 - 5 kelompok penelusur yang mendatangi Luweng ini. Masyarakat dusun juga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hasil pertanian dan membuat gula kelapa, sebagian besar pemuda yang ada didusun ini lebih memilih mengadu nasib dikota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, seperti yang dipilih oleh kelima orang anak Pak Sarno.
Ketrampilan mengambil nira dan membuat gula kelapa saat ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah cukup umur, mengingat nilai jual gula kelapa hanya berkisar Rp. 3.500,-/kilogram. Dari hal tersebut, sepertinya sulit mempertahankan ketrampilan ini untuk dapat diwariskan kepada generasi penerus di dusun Petung, meskipun setidaknya hingga saat ini, dalam seminggu pembuat gula kelapa masih dapat menghasilkan 50 kilogram gula dari 15 buah pohon yang rata-rata mereka miliki.
Dusun Petung, sebagaimana dusun-dusun didaerah lain, mulai merubah wajahnya mengikuti perubahan zaman, meski ada hal-hal yang tidak akan berubah, keramahan penduduknya dan kedalaman goanya yang tetap 110 meter.
(Catatan Perjalanan Bersama Tim Speleologi ASC)