
Kesederhanaan meliputi suasana dusun Gebang, rumah-rumah berdinding kayu terasa sepi dan sunyi. Semuanya seperti berjalan begitu lambat, sarat dengan nuansa kearifan dan kebijaksanaan. Tak ada hentakan-hentakan energi yang akan dijumpai disana, semangat muda barangkali hanya akan menjadi kenangan masa lalu, menjadi teman minum secangkir kopi yang dihidangkan bersama sepotong gula jawa. Dusun itu telah lama ditinggalkan oleh generasi mudanya, menyisakan orang-orang tua renta yang harus berjuang menghadapi kerasnya alam.
Dusun yang terletak di antara perbukitan kapur itu cukup sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor, untuk mencapai wilayah ini umumnya orang lebih memilih berjalan kaki. Dijalan berbatu menuju dusun ini masih terlihat usaha masyarakat setempat untuk memperbaikinya, dari tumpukan batu dan tebing-tebing yang di bongkar untuk pelebaran jalan, namun masih berantakan dikanan kiri jalan.
“Orang-orang dusun sini sudah tua-tua, setiap wage warga dusun gotong royong memperbaiki jalan semampunya“, tutur Pak Suyud yang menjabat sebagai ketua RT II di dusun Gebang sejak tahun 1970-an lalu.
Menurut keterangan lelaki berusia 54 tahun ini, hampir semua anak muda di dusunnya telah pergi merantau ke kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Rata-rata anak muda dusun bagian dari wilayah desa Bomo, kecamatan Punung, kabupaten Pacitan ini bekerja sebagai buruh bangunan atau pelayan di rumah-rumah makan.
“Untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri saja tidak cukup, makanya kami sebagai orangtua memaklumi jika mereka belum mampu membantu kami yang ada di kampung”, lanjut lelaki yang 2 orang anak pertamanya juga turut pergi ke kota seperti warga dusun lain. Menurut laki-laki yang pernah merantau ke Jakarta ini, tinggal 5 orang anak yang ada di dusunnya, 4 diantaranya masih sekolah SD dan SMP.
Sulit Air
Ada kisah yang memprihatinkan di dusun terpencil ini, air menjadi barang yang langka bagi seluruh warga dusun. Dimusim hujan, warga dusun yang berprofesi sebagai petani ladang ini harus bekerja keras memanfaatkan lembah di sela-sela bukit sebagai lahan pertanian mereka. Mereka menanam padi disela-sela pohon singkong, menanam kacang tanah serta kedelai di bagian ladang yang lain, semuanya harus dilakukan selama 6 bulan. Ketika musim kemarau datang, semua aktivitas pertanian yang mereka lakukan terhenti, ladang-ladang mereka menjadi kering kerontang hingga meretakkan tanah.
“Jangankan untuk mengairi ladang, untuk minum saja kami masih mengalami kesulitan. Dulu, kami harus mengantri dari jam 2 pagi untuk menampung tetesan air di sumber air, sekarang agak lebih mudah, kami bisa membeli air di dusun sebelah…” Ayah 3 anak yang memiliki 4 ladang tersebut kembali menuturkan.
Walau demikian, membeli air didusun sebelah bukanlah sebuah hal yang mampu dilakukan oleh seluruh warga dusun yang berjumlah 39 jiwa ini, selain mereka sudah tak sanggup lagi jika harus memikul air melewati bukit yang lumayan tinggi karena factor usia, warga dusun juga tak memiliki cukup uang untuk selalu membeli air.
Untuk menghemat pengeluaran, hingga kini mereka masih mengambil air di sumber air yang berjarak setengah kilo dari dusun mereka, hanya untuk keperluan air minum.
Sementara air seharga Rp.5000/meter kubik yang mereka beli dari dusun sebelah, digunakan untuk memasak, mencuci dan memberi minum ternak. Rata-rata warga dusun mengkonsumsi air sebanyak 70 liter perhari, untuk keperluan satu keluarga dan ternak mereka, bagi masyarakat pada umumnya, jumlah ini setara dengan kebutuhan air untuk satu orang per harinya.
Pipa distribusi air dari PDAM hanya sampai pusat-pusat desa, belum mampu menjangkau dusun-dusun terpencil seperti dusun Gebang. Untuk memperoleh air, warga harus swadaya membeli pipa dan meteran air yang harganya tidak mampu di pikul bahkan oleh seluruh warga dusun sekalipun.
kondisi ini memaksa warganya memiliki daya beli yang rendah, mereka harus memenuhi kebutuhan selama setahun hanya dari produksi ladang yang cuma bergantung pada air hujan.
Menangkap kelelawar
Tak jauh dari dusun, terdapat sebuah goa vertikal yang sering dikenal dengan Luweng Songo, namun penduduk setempat menyebutnya dengan nama Luweng Musuk (Luweng : istilah untuk menyebut goa vertikal, Musuk : kelelawar, penulis). Menjelang magrib warga dusun berduyun-duyun menuju mulut gua yang berdiameter ±15 meter ini sambil memikul jaring, mereka hendak menangkap kelelawar yang setiap sore keluar dari goa.
Warga dusun mengelilingi mulut goa dengan jaring-jaring yang mereka bawa, kelelawar yang melintas pun segera terjerat.
“Kelelawar ini kami jadikan lauk makan, lumayan bisa menghemat pengeluaran, kadang ada juga orang yang mau beli, katanya untuk obat sesak nafas “, tutur Suratman (52 th), salah seorang warga dusun yang hari itu mendapat cukup banyak tangkapan kelelawar.
Menangkap kelelar tak hanya dilakukan oleh orang-orang tua, Tri, salah seorang remaja terakhir dusun Gebang itu juga terlihat mahir mengayunkan jaringnya. Selain untuk lauk, remaja berusia 16 tahun ini menangkap kelelawar untuk memenuhi pesanan orang.
“Uangnya bisa dijadikan sebagai tambahan uang saku, hitung-hitung membantu orang tua…” kata Tri, anak bungsu Pak Suyud yang juga sering mendapat pesanan madu hutan dari guru-guru disekolahnya ini.
Tangkapan kelelawar ini dihargai 5 ribu rupiah per 40 ekornya, sedangkan untuk madu hutan, harga perbotolnya mencapai 60 ribu rupiah.
Ironisnya, setiap hari para penangkap kelelawar ini mendengar suara gemuruh air dari dasar goa, mereka tahu ada sungai dibawah sana, dari pengukuran yang pernah dilakukan debit sungai tersebut cukup besar, mencapai 80 liter per detik. Warga dusun hanya bisa mendengarkan suaranya tanpa bisa berbuat lebih dari itu.
Sebuah harapan
Kondisi sulit air yang memaksa warga dusun Gebang hidup dibawah garis kemiskinan, tidak membuat dusun yang di dominasi oleh lansia ini menyerah pada nasib. Mereka tetap bekerja diladang, hasil panen yang tidak begitu bagus tahun ini tak menyurutkan mereka yang masih memiliki anak usia sekolah untuk tetap melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.
Salah satunya adalah Tri, anak bungsu Pak Suyud yang baru saja lulus SMP dan berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Jika niat anak yang rajin membantu orangtuanya ini terlaksana, maka dia akan menjadi anak satu-satunya dari dusun Gebang yang bersekolah SMA.
Warga dusun Gebang memiliki harapan agar air dapat menjangkau rumah-rumah mereka. Dengan adanya air, mereka berharap mampu meningkatkan penghasilan dari pertanian dan tidak lagi bergantung pada air hujan.
Harapan ini sempat melambung tinggi ketika salah satu putra terbaik Pacitan menjadi orang nomor satu di negeri ini, namun harapan ini mulai redup seiring dengan berjalannya waktu.
“Sampaikan kondisi kami warga dusun Gebang pada Pak Bambang (SBY, pen), beliau kan orang sini…seharusnya tahu penderitaan kami, kami yakin pasti beliau sudah tahu…”, pesan Pak Suyud sambil tersenyum penuh arti ketika penulis hendak berpamitan pulang.(Pacitan, Juni 2007)



