Minggu, 2008 September 14

Halaman Belakang Kampung Presiden


Kesederhanaan meliputi suasana dusun Gebang, rumah-rumah berdinding kayu terasa sepi dan sunyi. Semuanya seperti berjalan begitu lambat, sarat dengan nuansa kearifan dan kebijaksanaan. Tak ada hentakan-hentakan energi yang akan dijumpai disana, semangat muda barangkali hanya akan menjadi kenangan masa lalu, menjadi teman minum secangkir kopi yang dihidangkan bersama sepotong gula jawa. Dusun itu telah lama ditinggalkan oleh generasi mudanya, menyisakan orang-orang tua renta yang harus berjuang menghadapi kerasnya alam.


Dusun yang terletak di antara perbukitan kapur itu cukup sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor, untuk mencapai wilayah ini umumnya orang lebih memilih berjalan kaki. Dijalan berbatu menuju dusun ini masih terlihat usaha masyarakat setempat untuk memperbaikinya, dari tumpukan batu dan tebing-tebing yang di bongkar untuk pelebaran jalan, namun masih berantakan dikanan kiri jalan.

“Orang-orang dusun sini sudah tua-tua, setiap wage warga dusun gotong royong memperbaiki jalan semampunya“, tutur Pak Suyud yang menjabat sebagai ketua RT II di dusun Gebang sejak tahun 1970-an lalu.


Menurut keterangan lelaki berusia 54 tahun ini, hampir semua anak muda di dusunnya telah pergi merantau ke kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Rata-rata anak muda dusun bagian dari wilayah desa Bomo, kecamatan Punung, kabupaten Pacitan ini bekerja sebagai buruh bangunan atau pelayan di rumah-rumah makan.

“Untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri saja tidak cukup, makanya kami sebagai orangtua memaklumi jika mereka belum mampu membantu kami yang ada di kampung”, lanjut lelaki yang 2 orang anak pertamanya juga turut pergi ke kota seperti warga dusun lain. Menurut laki-laki yang pernah merantau ke Jakarta ini, tinggal 5 orang anak yang ada di dusunnya, 4 diantaranya masih sekolah SD dan SMP.


Sulit Air
Ada kisah yang memprihatinkan di dusun terpencil ini, air menjadi barang yang langka bagi seluruh warga dusun. Dimusim hujan, warga dusun yang berprofesi sebagai petani ladang ini harus bekerja keras memanfaatkan lembah di sela-sela bukit sebagai lahan pertanian mereka. Mereka menanam padi disela-sela pohon singkong, menanam kacang tanah serta kedelai di bagian ladang yang lain, semuanya harus dilakukan selama 6 bulan. Ketika musim kemarau datang, semua aktivitas pertanian yang mereka lakukan terhenti, ladang-ladang mereka menjadi kering kerontang hingga meretakkan tanah.

“Jangankan untuk mengairi ladang, untuk minum saja kami masih mengalami kesulitan. Dulu, kami harus mengantri dari jam 2 pagi untuk menampung tetesan air di sumber air, sekarang agak lebih mudah, kami bisa membeli air di dusun sebelah…” Ayah 3 anak yang memiliki 4 ladang tersebut kembali menuturkan.

Walau demikian, membeli air didusun sebelah bukanlah sebuah hal yang mampu dilakukan oleh seluruh warga dusun yang berjumlah 39 jiwa ini, selain mereka sudah tak sanggup lagi jika harus memikul air melewati bukit yang lumayan tinggi karena factor usia, warga dusun juga tak memiliki cukup uang untuk selalu membeli air.

Untuk menghemat pengeluaran, hingga kini mereka masih mengambil air di sumber air yang berjarak setengah kilo dari dusun mereka, hanya untuk keperluan air minum.

Sementara air seharga Rp.5000/meter kubik yang mereka beli dari dusun sebelah, digunakan untuk memasak, mencuci dan memberi minum ternak. Rata-rata warga dusun mengkonsumsi air sebanyak 70 liter perhari, untuk keperluan satu keluarga dan ternak mereka, bagi masyarakat pada umumnya, jumlah ini setara dengan kebutuhan air untuk satu orang per harinya.

Pipa distribusi air dari PDAM hanya sampai pusat-pusat desa, belum mampu menjangkau dusun-dusun terpencil seperti dusun Gebang. Untuk memperoleh air, warga harus swadaya membeli pipa dan meteran air yang harganya tidak mampu di pikul bahkan oleh seluruh warga dusun sekalipun.

kondisi ini memaksa warganya memiliki daya beli yang rendah, mereka harus memenuhi kebutuhan selama setahun hanya dari produksi ladang yang cuma bergantung pada air hujan.


Menangkap kelelawar
Tak jauh dari dusun, terdapat sebuah goa vertikal yang sering dikenal dengan Luweng Songo, namun penduduk setempat menyebutnya dengan nama Luweng Musuk (Luweng : istilah untuk menyebut goa vertikal, Musuk : kelelawar, penulis). Menjelang magrib warga dusun berduyun-duyun menuju mulut gua yang berdiameter ±15 meter ini sambil memikul jaring, mereka hendak menangkap kelelawar yang setiap sore keluar dari goa.

Warga dusun mengelilingi mulut goa dengan jaring-jaring yang mereka bawa, kelelawar yang melintas pun segera terjerat.

“Kelelawar ini kami jadikan lauk makan, lumayan bisa menghemat pengeluaran, kadang ada juga orang yang mau beli, katanya untuk obat sesak nafas “, tutur Suratman (52 th), salah seorang warga dusun yang hari itu mendapat cukup banyak tangkapan kelelawar.

Menangkap kelelar tak hanya dilakukan oleh orang-orang tua, Tri, salah seorang remaja terakhir dusun Gebang itu juga terlihat mahir mengayunkan jaringnya. Selain untuk lauk, remaja berusia 16 tahun ini menangkap kelelawar untuk memenuhi pesanan orang.

“Uangnya bisa dijadikan sebagai tambahan uang saku, hitung-hitung membantu orang tua…” kata Tri, anak bungsu Pak Suyud yang juga sering mendapat pesanan madu hutan dari guru-guru disekolahnya ini.

Tangkapan kelelawar ini dihargai 5 ribu rupiah per 40 ekornya, sedangkan untuk madu hutan, harga perbotolnya mencapai 60 ribu rupiah.

Ironisnya, setiap hari para penangkap kelelawar ini mendengar suara gemuruh air dari dasar goa, mereka tahu ada sungai dibawah sana, dari pengukuran yang pernah dilakukan debit sungai tersebut cukup besar, mencapai 80 liter per detik. Warga dusun hanya bisa mendengarkan suaranya tanpa bisa berbuat lebih dari itu.

Sebuah harapan
Kondisi sulit air yang memaksa warga dusun Gebang hidup dibawah garis kemiskinan, tidak membuat dusun yang di dominasi oleh lansia ini menyerah pada nasib. Mereka tetap bekerja diladang, hasil panen yang tidak begitu bagus tahun ini tak menyurutkan mereka yang masih memiliki anak usia sekolah untuk tetap melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.

Salah satunya adalah Tri, anak bungsu Pak Suyud yang baru saja lulus SMP dan berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Jika niat anak yang rajin membantu orangtuanya ini terlaksana, maka dia akan menjadi anak satu-satunya dari dusun Gebang yang bersekolah SMA.

Warga dusun Gebang memiliki harapan agar air dapat menjangkau rumah-rumah mereka. Dengan adanya air, mereka berharap mampu meningkatkan penghasilan dari pertanian dan tidak lagi bergantung pada air hujan.

Harapan ini sempat melambung tinggi ketika salah satu putra terbaik Pacitan menjadi orang nomor satu di negeri ini, namun harapan ini mulai redup seiring dengan berjalannya waktu.

“Sampaikan kondisi kami warga dusun Gebang pada Pak Bambang (SBY, pen), beliau kan orang sini…seharusnya tahu penderitaan kami, kami yakin pasti beliau sudah tahu…”, pesan Pak Suyud sambil tersenyum penuh arti ketika penulis hendak berpamitan pulang.(Pacitan, Juni 2007)

Menelusuri Jejak Luweng Ombo



Menggapai Dasar Luweng
Mendung masih terlihat menggantung di langit dusun Petung, sebuah dusun yang berada di desa Kalak, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dusun di ujung barat kabupaten Pacitan ini tampak gelisah dipermainkan musim, meski hijau dedaunan mulai menampakkan diri dipunggung bukit-bukit kerucut yang terhampar disekelilingnya.

Pagi, awal Februari 2007, dusun yang terdiri dari 65 KK tersebut masih diselimuti sepi, jejak-jejak hujan semalam masih terbaca jelas di tanah yang basah. Beberapa orang terlihat berjalan kaki menyusuri jalan dusun sambil membawa bumbung yang telah penuh terisi nira. Kesunyian itu tak bertahan lama ketika kendaraan bermotor yang kami tumpangi melintas, beberapa pasang mata menatap ramah, kami membalas dengan sapaan khas masyarakat jawa sambil sedikit menganggukkan kepala “monggo pak..”, mereka pun segera tersenyum mempersilahkan. Tak ada ekspresi heran dari wajah-wajah itu, meskipun rombongan kami yang berjumlah 16 orang berpenampilan cukup aneh, setidaknya bagi masyarakat awam di tempat lain.

Di belakang kami, senyum Pak Sarno masih tersungging di bibirnya, lelaki yang baru kami kenal pagi tadi masih terlihat bugar, rambutnya yang telah memutih tak mampu menyembunyikan usianya yang mendekati 73 tahun. Pagi tadi, lelaki ramah ini menerima kedatangan kami diruang tamunya, dengan senang hati kepala dusun yang telah menjabat sejak 1964 ini menawarkan rumahnya sebagai basecamp kegiatan kami hingga hari minggu besok, dari Pak Sarno pula kami mengetahui bahwa rumah beliau telah berulang kali dijadikan basecamp para penelusur goa sejak tahun 1980-an silam.

Goa yang menjadi tujuan perjalanan kami ternyata terletak tepat di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kediaman Pak Sarno. Diameter mulutnya cukup lebar, mencapai ± 30 meter, tak mengherankan jika orang-orang menamakan goa ini Luweng Ombo (Luweng = istilah masyarakat setempat untuk menyebut goa vertikal, Ombo = lebar/luas). Dasar Luweng Ombo terlihat jelas dari atas, informasi yang menyebutkan kedalaman luweng ini mencapai 100 meteran memang tidak berlebihan, warna kehijauan yang terhampar jauh di bawah sana membuat kami tidak berani menyimpulkan apakah itu hamparan rumput atau pepohonan? Dalam hati kami berharap warna kehijauan itu adalah rumput.

Matahari sudah hampir mencapai puncak panasnya, jam tangan menunjukkan pukul 10.30 wib, lintasan tali untuk turun ke dasar luweng mulai dipasang oleh riggingman (orang yang bertanggungjawab sebagai pembuat lintasan) dibantu oleh seorang asistennya. Kami menyiapkan 2 lintasan sekaligus, sehingga 4 orang terlihat sibuk menambatkan tali. Berbagai perhitungan dilakukan untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin, toleransi kesalahan kali ini adalah nol, kami menyadari sepenuhnya, sedikit saja ada kesalahan dalam pembuatan lintasan, keselamatan anggota tim menjadi taruhannya. Berbekal kemampuan teknik dan jam terbang yang kami miliki dilapangan, dengan penuh kehati-hatian akhirnya lintasan siap digunakan satu setengah jam berikutnya.

Panas matahari begitu menyengat ketika 2 orang pertama mulai menuruni lintasan tali dengan menggunakan descendeur. Meter demi meter dilalui dengan detakan jantung yang lebih keras dari biasanya. Adrenalin mulai merambat perlahan memenuhi darah muda kami. Tatapan mata rekan-rekan yang berada di bibir luweng mengiringi dengan cemas, beberapa diantaranya sempat melemparkan senyum yang terlihat kecut. Menit-menit berlalu begitu lambat, 2 orang pertama yang menuruni tali terlihat semakin jauh dan semakin mengecil, tak lebih besar dari kepala korek api.

Walky talkie yang menjadi alat komunikasi satu-satunya terus berbunyi bersahutan, “tali kedua mulai disambung…”, leader menginformasikan secara detail setiap tahapan yang dikerjakannya, tim yang berada diatas memantau dengan penuh perhatian.

“Rope freee….” Terdengar aba-aba dari leader melalui walkie talkie 30 menit kemudian, menandakan bahwa lintasan telah bebas dan siap digunakan oleh 2 orang berikutnya. Begitulah, secara berpasangan kami susul menyusul meniti tali kernmantel (jenis tali yang terbuat dari anyaman nilon) dengan diameter 10,5 milimeter menuju dasar Luweng Ombo.

Hari menjelang gelap, ketika orang terakhir menjejakkan kakinya di dasar luweng. 14 orang yang telah berada di dasar sebelumnya terlihat bergerombol jauh dari lintasan tali, berlindung ditempat yang aman dari kemungkinan runtuhan bebatuan yang sering terjadi sekitar mulut luweng. Sesampai didasar luweng, jawaban tentang hamparan warna hijau yang terlihat dari permukaan sebelumnya terpampang jelas, dan bukan rumput, melainkan pepohonan dengan ketinggian berkisar 7-12 meteran, dengan semak-semak cukup lebat di sela-selanya. Hasil pengukuran kami dengan menggunakan topofil (alat ukur jarak) menunjukkan luweng Ombo memiliki kedalaman 110,04 meter, hampir mendekati goa butiung (117 meter) yang merupakan goa single pitch terdalam di Jawa yang terletak di kabupaten Gunungkidul

Dasar Luweng Ombo, ternyata tidaklah sedatar seperti yang terlihat dari atas, lantai yang dipenuhi reruntuhan boulder besar (bongkahan batu) tersebut memiliki kemiringan mendekati 70˚, Reruntuhan bongkah-bongkah besar yang memenuhi dasar Luweng Ombo secara tidak langsung menunjukkan betapa besarnya kekuatan alam yang menyebabkan sebuah lahan runtuh secara tiba-tiba, membentuk ruangan besar dibawah tanah menyerupai gentong yang dipotong dasarnya secara diagonal. Reruntuhan ini memotong sebuah sungai bawah tanah yang kami perkirakan telah ada sebelumnya, meskipun keberadaan sungai ini tidak kami lihat secara langsung, namun dengan jelas kami menangkap suara gemuruh aliran air yang cukup deras dibawah reruntuhan yang menjadi tempat kami berpijak didasar luweng.

Rasa ingin tahu menuntun kami untuk menyusuri lantai yang cukup curam di dasar luweng, menuju sebuah lorong yang terlihat diujung sana. Luasnya dasar luweng Ombo membuat penelusuran kali ini lebih mirip downhill disebuah lereng gunung daripada didasar goa. Keadaan sekeliling sudah berubah menjadi gelap sama sekali , memaksa kami menggunakan headlamp dan lampu karbit guna menerangi rute yang sedang ditempuh. Jauh diatas sana, langit yang diterangi bias cahaya bulan terlihat samar-samar, dibatasi garis hitam pekat bagai frame yang dihasilkan oleh sillhoutte dinding luweng.

Aktivitas ekplorasi kami terhenti oleh sebuah bidang tegak sedalam 7 meteran yang berada di ujung kemiringan lantai dasar luweng Ombo. Habisnya persediaan tali yang kami bawa tidak menyisakan kesempatan untuk melihat lebih jauh lorong yang masih membentang didepan sana. Akhirnya tubuh yang lelah setelah menuruni medan vertikal 110 meter dan menuruni lereng yang cukup terjal, membuat kami kembali ke tempat peristirahatan di dekat tali lintasan. Rasa lapar yang mulai melilit mendorong kami untuk segera menyantap bekal yang kami bawa.

Hampir tengah malam, ketika 2 orang pertama memutuskan untuk mulai naik ke permukaan. Menggunakan sepasang ascendeur yang terpasang didada dan digenggaman tangan, mereka mulai meniti tali. Seperti perjalanan turun sebelumnya, keringat mulai membanjiri seluruh tubuh, rasa takut sempat menyelinap ketika menyadari semakin lama semakin jauh dari dasar, sebuah keadaan yang memaksa setiap orang berpikir tentang akibat paling fatal jika jatuh bebas dan membentur bumi dengan keras, keadaan yang membuat setiap orang merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Hampir 60 menit lamanya mereka bergelantungan ditali menantang gravitasi, hingga akhirnya berhasil mencapai mulut goa. Wajah lega segera menyelimuti keduanya, sepatah kata syukur dan pujian pada Ilahi terlontar begitu saja tanpa mereka sadari. Rekan-rekan yang masih ada dibawah sana kemudian menyusul naik secara berpasangan, orang terakhir yang keluar dari luweng tiba di permukaan ketika fajar mulai merekah di ufuk timur.

Barometer masa silam
Luweng Ombo yang terletak di ujung timur dusun Petung, menjadi simbol perbatasan dusun tersebut dengan dusun Klepu yang berada di sebelahnya. Berdasarkan keterangan Pak Sarno, kepala dusun setempat, pertama kali luweng ini di telusuri oleh 6 orang penelusur goa yang berasal dari Mapala UI, tahun 1982 silam. Hal ini dikuatkan lebih lanjut oleh keterangan Pak Sokiran (53 tahun), warga dusun Klepu yang menjadi pemilik lahan dimana lokasi Luweng Ombo berada.

Rombongan penelusur goa tersebut diketuai oleh Norman Edwin (alm), pada kunjungan pertamanya, ternyata Norman berserta rekan-rekannya cukup berhasil menarik simpati masyarakat sehingga dengan antusias mereka berdatangan dan membantu tim ini untuk dapat mengoak misteri yang ada didasar Luweng Ombo, tim ini akhirnya berhasil menjejakkan kakinya di dasar luweng Ombo meskipun beberapa orang di antaranya sempat muntah-muntah setelah bergantungan di kedalaman puluhan meter.

Keberhasilan Norman Edwin beserta rekan-rekannya memicu kelompok penelusur lain dari berbagai daerah untuk mendatangi dan mencoba menelusuri Luweng tersebut. Sejak saat itu, Luweng Ombo menjadi “kiblat” dalam dunia penelusuran goa era tahun 80-an, selain Luweng Songo dan Goa Jaran, jauh sebelum Goa Leangputte (273 meter) ditemukan di belantara Sulawesi oleh tim ekspedisi gabungan Anglo Australian, pada tahun 1992. Norman sendiri, pasca keberhasilan timnya menjadi tim pertama yang masuk ke Luweng Ombo, sempat 2 kali lagi mengunjungi luweng tersebut sebelum meninggal dunia di Aconcaqua, Argentina.

Pada tahun 1998, jalan dusun yang sebelumnya masih berupa jalan berbatu, mulai di aspal oleh pemerintah. Hal ini disambut gembira oleh penduduk setempat. Setidaknya, masyarakat dusun yang sebagaian besar berprofesi sebagai petani dan pembuat gula kelapa ini berharap pembangunan jalan tersebut dapat memudahkan para pembeli untuk datang ke dusun mereka. Seiring dengan kemudahan akses menuju dusun Petung, frekwensi penelusur goa yang mengunjungi Luweng Ombo juga semakin meningkat, dan mencapai puncaknya pada peringatan kemerdekaan di setiap bulan Agustus.

Kini, Luweng Ombo tidak lagi ramai dikunjungi seperti dulu. Setidaknya dalam setahun rata-rata hanya 3 - 5 kelompok penelusur yang mendatangi Luweng ini. Masyarakat dusun juga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hasil pertanian dan membuat gula kelapa, sebagian besar pemuda yang ada didusun ini lebih memilih mengadu nasib dikota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, seperti yang dipilih oleh kelima orang anak Pak Sarno.

Ketrampilan mengambil nira dan membuat gula kelapa saat ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah cukup umur, mengingat nilai jual gula kelapa hanya berkisar Rp. 3.500,-/kilogram. Dari hal tersebut, sepertinya sulit mempertahankan ketrampilan ini untuk dapat diwariskan kepada generasi penerus di dusun Petung, meskipun setidaknya hingga saat ini, dalam seminggu pembuat gula kelapa masih dapat menghasilkan 50 kilogram gula dari 15 buah pohon yang rata-rata mereka miliki.

Dusun Petung, sebagaimana dusun-dusun didaerah lain, mulai merubah wajahnya mengikuti perubahan zaman, meski ada hal-hal yang tidak akan berubah, keramahan penduduknya dan kedalaman goanya yang tetap 110 meter.

(Catatan Perjalanan Bersama Tim Speleologi ASC)

Harapan Di Goa Plawan


Siang yang terik tak membuat Mbah Bardi, lelaki renta yang berusia hampir 70 tahun mengurungkan niatnya untuk membawa pulang 2 ekor kambing yang baru saja dibelinya dari pasar Parangtritis. Jalan berbatu yang nyaris tanpa pepohonan peneduh dilaluinya dengan berjalan kaki, melewati bukit-bukit kering menuju dusun yang berjarak hampir 8 kilometer dari tempatnya membeli kambing.
Lelaki tua tersebut menawarkan kembali kambing yang dibawanya hampir kepada setiap orang yang ditemuinya dalam perjalanan pulang, dia berharap memperoleh laba dari hasil penjualannya, tidak banyak, hanya 100 ribu rupiah. Dalam benak Mbah Bardi, dengan laba itu dia bisa membeli air untuk keluarganya, sementara dia masih bisa membeli kambing lagi dengan uang sisa penjualannya.
Dusun Gabug tempat tinggal Mbah Bardi memang telah benar-benar dikeringkan oleh musim, telaga Sambi yang selama ini menghidupi warganya hanya bertahan selama 30 hari, selebihnya warga yang tinggal di daerah paling ujung baratdaya kabupaten Gunungkidul ini harus menggantungkan hidupnya dari mobil tanki air. Uang sebanyak 110-125 ribu rupiah harus mereka keluarkan untuk satu tanki air berisi 5000 liter, setidaknya 3 – 4 tanki harus mereka beli untuk mencukupi sebuah keluarga dengan 2 orang anak selama enam bulan, jumlah kebutuhan ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga yang mereka miliki serta berapa lama musim kering akan berlangsung.
Tak semua warga dusun mampu membeli air dari mobil tanki, banyak diantara mereka yang terpaksa membeli air secara eceran di warung, dengan uang 1000 rupiah, 30 liter air akan mereka dapatkan untuk mencukupi kebutuhan 3 orang selama satu hari. Beberapa dermawan memang sering memberikan bantuan berupa suplai air bersih di dusun ini, namun hal itu belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dusun akan air.
Sebenarnya, warga dusun Gabug telah lama mengetahui bahwa 110 meter di bawah tempat tinggal mereka mengalir sebuah sungai bawah tanah, informasi ini mereka peroleh dari beberapa kelompok penelusur gua yang berulangkali menelusuri sungai tersebut melalui sebuah lubang alami yang dikenal sebagai luweng Plawan (luweng merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat gunungkidul untuk menyebut gua vertikal).
Tidak tanggung-tanggung, debit sungai bawah tanah tersebut cukup besar, pada ujung musim kemarau debit minimal mencapai 25 liter per detik sedangkan pada musim penghujan bisa mencapai 300 liter perdetik, jika WHO dalam sebuah pernyataannya mengemukakan bahwa 1 liter perdetik air dapat menghidupi 1000 orang, maka sungai di luweng Plawan dengan debit minimal akan sanggup menghidupi 25 ribu orang, sebuah angka yang cukup untuk mencukupi kebutuhan air seluruh warga dusun Gabug dan bahkan beberapa dusun di sekitarnya.
3 tahun silam, harapan warga dusun sempat bangkit ketika mengetahui air dari sungai bawah tanah tersebut akan dinaikkan kepermukaan melalui luweng Plawan, mereka bersuka ria ketika melihat pipa-pipa mulai terpasang hingga ke dasar luweng. Reservoir (bak penampungan air) berukuran besar juga telah terbangun disamping mulut luweng, pada uji coba pengangkatan, air dari dalam gua benar-benar bisa keluar meskipun cuma 30 persen dari jumlah yang diharapkan, kebocoran pipa menjadi penyebabnya saat itu, tapi itu bukan apa-apa.
Permasalahan sebenarnya justru ketika tiba-tiba harapan yang tinggal selangkah lagi terwujud harus sirna begitu saja, proyek pengangkatan air itu terhenti oleh sebab-sebab yang agak sulit dipahami oleh kebanyakan warga dusun, kisah sedih ini menyisakan pipa-pipa berkarat yang terjulur di dinding-dinding luweng. Warga dusun hanya terdiam pasrah dan sempat menjadi apriori pada setiap penelusur yang hendak menelusuri luweng Plawan pasca kejadian itu.
Warga dusun kembali menjalani hidup sebagaimana biasa, seperti waktu-waktu yang lalu, bertani diladang selagi musim penghujan, dan kembali harus mengeluarkan uang yang tak sebanding dengan penghasilan bertani selama musim hujan ketika telaga Sambi kembali mulai mengering. Dimusim kemarau, mereka hanya bisa berharap bantuan air dari dermawan sambil melakukan beberapa pekerjaan seperti beternak dan menjual sayuran ke pasar-pasar terdekat, sementara bagi warga yang berkecukupan, iring-iringan tanki air menjadi harapan satu-satunya.
Tahun 2006 menghidupkan kembali harapan warga dusun Gabug, KKN tematik mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta mengagendakan sebuah proyek skala kecil berupa pengangkatan kembali air dari sungai bawah tanah di luweng Plawan. Bekerjasama dengan sebuah club penelusur gua, para mahasiswa ini mencoba membangun segala sesuatunya dari awal, termasuk penggalangan dana dari beberapa donatur.
Kendala kesulitan medan di dalam luweng maupun di permukaan, serta keterbatasan dana yang tersedia membuat proyek ini harus berjalan setahap demi setahap, pemetaan gua, pengeplotan titik-titik jalur pipa, serta pemetaan jalur distribusi air membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tahap akhir dari proyek swadaya mahasiswa ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan 3000 jiwa akan air, tidak hanya warga dusun Gabug, tetapi juga warga di 3 dusun sekitarnya.
Mbah Bardi, hanyalah gambaran salah seorang warga dusun Gabug yang memiliki harapan luar biasa besar akan keberhasilan proyek pengangkatan air di luweng Plawan kali ini. Harapan yang lebih besar daripada sekedar mendung yang menggantung di langit maupun hujan gerimis yang membasahi tanah di dusun Gabug beberapa saat terakhir ini.
Sebagai “wong ndeso kang nerimo ing pandum” (orang desa yang ikhlas menerima keadaan), lelaki tua ini tak pernah merasa keberatan atas segala kesulitan hidup yang dijalaninya selama ini, harapan yang dipupuk dihatinya terhadap luweng Plawan bukan untuk dirinya, tetapi untuk anak cucu yang disayanginya. Masih segar dalam ingatan Mbah Bardi 50 tahun yang silam, ketika bukit-bukit didusunnya masih diselimuti pepohonan hijau, ketika nyanyian burung-burung menjadi pelipur lara, saat itu telaga Sambi yang berair jernih menjadi sentra kegiatan masyarakat dusun, tidak pernah kering sepanjang tahun, setidaknya bayangan ini sempat melintas seiring harapannya terhadap luweng Plawan.
Masih banyak puluhan ribu Mbah Bardi lain yang tinggal diantara perbukitan karst Gunungkidul, bahkan dengan nasib yang mungkin lebih tak seberuntung lelaki tua tersebut, sosok Mbah Bardi yang masih memiliki semangat untuk bertahan hidup sebagai pedagang kambing kecil-kecilan.
Hingga ujung dusunnya, 2 ekor kambing yang dituntun Mbah Bardi tak juga terjual, namun wajah keriput itu tak patah semangat. Dalam hatinya yakin, esok hari pasti akan menjadi lebih baik, ketika air dari luweng Plawan sudah mulai menjamah permukaan tanah dusunnya.

(Kini air di luweng Plawan telah benar-benar bisa diangkat kepermukaan melalui usaha keras KKN Tematik UGM yang di dukung oleh tim speleologi dari ASC dan warga sekitar)




Bahaya Penelusuran

Sebagai lingkungan yang asing bagi manusia, gua tentu saja menyimpan berbagai potensi bahaya yang harus diwaspadai oleh siapa saja yang hendak menelusurinya, tak terkecuali oleh mereka yang paling berpengalaman sekalipun. Berbagai faktor bahaya yang sering dikemukakan dalam berbagai teori kegiatan alam bebas selalu ber-unsur pada 2 hal yang secara umum dikenal sebagai Objektif Danger (bahaya yang berasal dari lokasi kegiatan) dan Subyektif Danger (bahaya yang berasal dari diri sendiri). Kenyataan dilapangan membuktikan bahwa potensi bahaya yang berasal dari diri sendiri memiliki perbandingan lebih besar terjadi daripada potensi bahaya yang berasal dari gua sebagai lokasi kegiatan, namun tidak berarti kita boleh memandang remeh potensi bahaya yang di miliki oleh sebuah gua, dalam kegelapan dan kesunyiannya…sebuah gua bisa saja menyimpan sesuatu yang mematikan tanpa kita sadari.


Teknik Penelusuran Wajib Di Miliki & Di Kuasai

Sebagai antisipasi terhadap potensi bahaya yang bisa muncul dari diri sendiri, seseorang yang berniat ingin menelusuri gua hendaknya membekali diri dengan pengetahuan teknik penelusuran gua, baik teknik penelusuran gua horizontal maupun vertikal.

Untuk sekedar bisa memasuki gua dengan aman dan nyaman (tanpa ada misi tertentu seperti pemetaan gua, memotret, membuat film, tindakan penyelamatan, dsb), seorang calon penelusur gua diharapkan menguasai ketrampilan gerak seperti berjalan biasa (walking), berjalan membungkuk (bear walking), merangkak (crawling), merayap (creeping), merayap melewati bongkah besar dilorong sempit (squezing) dan berjalan jongkok (ducking), kelihatannya sepele…namun jangan salah, jika kita tidak biasa melakukannya (atau setidaknya tidak biasa melatih kelenturan otot-otot tubuh kita) dijamin akan merupakan siksaan tersendiri selama melakukan “aktivitas-aktivitas biasa” tersebut di dalam gua, bahkan ketika kita harus melakukannya dalam durasi yang cukup lama, seperti ketika kita harus merangkak atau merayap atau jalan jongkok sejauh 2 kilometer dalam kondisi lorong berlumpur.

Kondisi lorong gua yang bervariasi juga menuntut kita untuk menguasai berbagai gerakan dasar pemanjatan tebing, seperti berjalan diantara celah yang dalam (bridging dan chimneying), juga teknik-teknik pegangan seperti laybacking, undercuting, jamming, mantleselfing hingga kemampuan rock climbing dalam arti sebenarnya.

Ketika gua yang akan ditelusuri berupa lorong-lorong vertikal, ketrampilan SRT (single rope technique) dan simpul harus dilatih sedemikian rupa, hingga semua ketrampilan tersebut menjadi kebiasaan dan gerak reflek kita akan terbentuk serta terarah dengan benar. Dalam kondisi panik dan tertekan, seorang penelusur gua yang sedang bergantung pada seutas tali, tanpa memiliki pengendalian emosi yang baik dan gerak reflek yang terarah dengan benar, sering berbuat sesuatu yang konyol sehingga berakibat buruk bagi keselamatan yang bersangkutan.

Bahkan seorang yang memiliki tingkat mahir sekalipun, sebaiknya melakukan refresing teknik SRT setidaknya sehari atau dua hari sebelum kegiatan penelusuran dilakukan.


Waspada Pada Lorong Berair

Dalam kondisi tertentu, tak jarang seorang penelusur gua menemukan lorong berair berupa kolam-kolam yang tak jelas berapa dalamnya, bahkan sungai-sungai bawah permukaan baik yang berarus tenang maupun berarus liar. Tentu saja kemampuan berenang menjadi kebutuhan vital dalam kasus ini. Jika kita biasanya berenang menggunakan pakaian renang, dalam penelusuran gua berenang akan berubah menjadi sebuah aktivitas yang cukup memakan energi, perangkat keamanan yang kita kenakan seperti sepatu boot, coverall (pakaian penelusuran yang mirip seragam mekanik/wearpack), helm serta alat penerangan tentu saja akan membuat kita sedikit kerepotan. Mengenakan pelampung yang baik dan layak akan menjadi solusi terbaik meskipun kita memiliki kemampuan berenang bagus, bentukan lorong yang sempit dengan atap rendah terkadang membatasi gerakan kita, juga barang-barang yang kita bawa seperti tas (tacklebag) yang berisi logistik maupun box perlengkapan pemetaan atau peralatan fotografi.

Scouting, istilah yang dikenal dalam kegiatan arung jeram ketika membaca arus utama sungai, merupakan salah satu kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh penelusur gua ketika hendak menelusuri sungai bawah tanah yang berarus kuat. Bentukan dinding sungai di dalam gua tidak berbeda jauh dengan sungai di permukaan, istilah undercut yang memiliki arus hidrolik akan banyak ditemui oleh penelusur gua, belum lagi jika ditambah dengan bebatuan runcing yang menjadi ciri khas batugamping ketika tergerus oleh arus sungai. Perahu atau kayak yang sering kita pakai, sebaiknya dikendalikan oleh skipper terlatih jika tidak ingin terkoyak oleh bebatuan runcing tersebut, selain itu stalaktit yang menggantung di atap gua, terkadang menjadi ancaman tersendiri ketika ujung-ujungnya yang tajam menjuntai hingga menyentuh permukaan air.

Banjir, Monster Menakutkan Di Lorong Bawah Tanah

Musim hujan biasanya membuat penelusur gua kebanyakan memilih “gantung coverall” daripada melakukan aktivitas caving. Logikanya sederhana, gua yang semula berfungsi sebagai zona larian air dari permukaan menuju bawah permukaan, akan kembali menjadi fungsinya semula selama musim hujan berlangsung, terutama gua-gua yang memiliki entrance di dasar-dasar lembah. Seberapa besar banjir didalam gua sebenarnya dapat di monitor dari berapa luas daerah tangkapan air hujan dilokasi entrance berada, juga dengan melihat jejak-jejak banjir di dalam gua, biasanya berupa sampah atau ranting-ranting yang menempel di dinding hingga atap gua.

Seorang penelusur, (jika terpaksa caving di musim hujan) sebaiknya melakukan orientasi detail terhadap hal tersebut diatas, juga harus mampu menentukan tempat-tempat yang dirasa aman ketika banjir sewaktu-waktu datang menerjang. Persiapan logistik darurat mesti diperhitungkan, karena kadang ketika banjir datang dan kita terjebak di “tempat aman” bisa jadi akan memakan waktu berhari-hari hingga air kembali normal. Kepekaan intuisi seorang penelusur bisa jadi akan menyelamatkan seluruh anggota tim, seperti mengenali tanda-tanda ketika banjir datang, air yang mulai berubah menjadi lebih keruh, bau lumpur pekat yang menyengat, hingga suara gemuruh yang menciutkan nyali. Namun, terkadang intuisi kita tak mampu memberikan sinyal apa-apa ketika banjir mengancam, hingga semuanya serba terlambat dan kita hanya bisa menyerah pada nasib dan keberuntungan semata.

Batu-Batu Pun Bisa Runtuh

Dinding dan atap gua tersusun atas batuan gamping yang memiliki sifat britle, keras tapi mudah patah, sehingga memiliki pola-pola retakan sedemikian rupa yang tidak semua dari kita menyadarinya. Sebagai bagian dari batuan sedimen, batugamping ada yang bersifat masif (pejal) dan ada yang memiliki bidang-bidang perlapisan, yang membuatnya seperti kue lapis. Ada batugamping yang berlapis tipis-tipis dan sejajar atau dikenal dengan laminasi, tapi ada juga yang berlapis tebal-tebal membentuk bedding. Batuan sedimen penyusun gua ini tidak begitu saja terendapkan tanpa gangguan apapun, Pada daerah yang memiliki banyak struktur geologi, tentunya akan memiliki susunan batugamping yang porak-poranda, misalkan saja pada daerah-daerah yang terpotong oleh sesar.

Kembali pada kedetailan orientasi seorang penelusur, gua yang terletak pada daerah yang memiliki sesar, seorang penelusur akan banyak melihat reruntuhan bebatuan dan banyak diantara boulder atau bongkah batu justru masih tergantung diatap-atap gua atau dinding gua., biasanya bebatuan yang siap jatuh tersebut hanya terganjal oleh bebatuan lain yang lebih kecil, bahkan hanya terganjal oleh lumpur. Kondisi seperti ini juga dimungkinkan ketika gua terbentuk oleh proses runtuhan (collapse doline) dan proses pelarutan (solutional doline)

Jatuhnya bebatuan yang menggantung diatap atau di dinding gua tersebut, bisa dipicu oleh getaran yang cukup besar, seperti gempa, atau bahkan hanya oleh gema suara penelusur yang terlalu berisik.

JANGAN PERNAH MELEPASKAN HELM yang kita kenakan akan menjadi pilihan bijak ketika kita berada dalam gua, jika kita terpaksa akan membuka helm untuk keperluan tertentu, carilah tempat yang benar-benar dirasa aman dari potensi runtuhan.

Dalam beberapa kasus, seorang penelusur yang memegang disiplin tetap menggunakan helm penelusuran, ketika sebuah batu menimpanya, beberapa ada yang selamat tanpa luka sedikitpun, dan beberapa ada yang mengalami luka serius, karena tulang leher dan tulang punggungnya mengalami dislokasi atau patah, karena memang tulang kita tidak didesain untuk menerima beban kejut yang besar dari sebuah batu yang berat.

Awas Binatang Berbisa

Dalam sebuah ekpedisi pendataan dan pelacakan sistem hidrologi karst akhir tahun 2006 lalu di kawasan karst Grobogan - Jawa Tengah, saya sempat terperangah ketika menelusuri sebuah gua yang ternyata menjadi (semacam) kerajaan ular. Tidak tanggung-tanggung, dalam gua itu puluhan ekor ular berdiam dan tersebar di beberapa titik, mulai dari mulut gua (yang dikenal sebagai zona terang), ruangan di bawah mulut gua (atau dikenal sebagai zona peralihan, kebetulan gua itu tergolong gua vertikal) hingga jauh di dalam lorong yang dikenal sebagai zona gelap abadi.

Beberapa jenis ular yang mampu saya kenali rata-rata memiliki racun tinggi, seperti ular welang (bungarus fasciatus), ular bandotan tanah (Vipera russelli) dan ular kobra (Naja Sputatrix). Diantara mereka ada juga jenis ular pembelit seperti ular sanca kembang (Python reticulatus) yang ukurannya sudah sebesar lengan orang dewasa.

Yang menggelitik penulis dan beberapa rekan penelusur dari ASC (Acintyacunyata Speleological Club) adalah beberapa teori yang ada tentang biospeleologi selama ini selalu menyebutkan bahwa ular adalah biota yang masuk pada kategori trogloxene alias binatang tamu, dimana siklus hidupnya tidak berlangsung sepenuhnya didalam gua. Paling sial, jika ia berada jauh kedalam zona gelap abadi, kemungkinan karena faktor accidental, seperti terjatuh atau terbawa banjir. Menyimak perilaku mereka, seperti tingkat agresivitas ketika melihat cahaya, ular-ular ini sepertinya “adem ayem” saja, seperti bilang “Asal jangan senggol gue aja, lu jual…gua beli deh” begitu kira-kira gambaran sederhananya.

Hipotesa sementara, ular-ular yang melimpah ini barangkali sudah memiliki tingkat adaptasi pada lingkungan yang cukup mapan, diimbangi dengan daya dukung makanan yang melimpah seperti katak dan kelelawar. Untuk lebih jelasnya, kajian yang lebih mendalam perlu dilakukan lebih lanjut terhadap fenomena ini (penulis hanya memiliki pengetahuan sedikit tentang biota dan perilakunya).

Selain ular, binatang seperti kalajengking dan lipan juga berkali-kali muncul dalam perjalanan dilorong bawah tanah. Sengatan kalajengking atau lipan tidak kalah menyakitkannya dibandingkan gigitan ular, meskipun jarang menyebabkan kematian.

Uropighi atau sering dikenal sebagai Psedoscorpion dengan semprotan asam cukanya tergolong biota yang patut kita waspadai, jika kita gegabah bisa saja mata kita dijadikan pedih dan buta sesaat akibat terkena semprotan cairan dari ekornya.

Catatan :

- Ular Kobra (Naja Sputatrix), memiliki racun neurotoksin yang menyerang syaraf dan racun hemotoksin yang merusak jaringan darah yang menyebabkan rasa terbakar dan rasa sakit yang luar biasa, apabila tidak lekas tertolong, korban bisa meninggal dunia. Ular Kobra cenderung agresif dibandingkan ular berbisa lainnya. Warnanya hitam legam, bila merasa terancam akan menegakkan badan dan mengembangkan lehernya seperti di film-film India.

- Ular Welang (Bungarus Fasciatus), memiliki racun neurotoksin. Tercatat sebagai pembunuh paling mematikan dibandingkan Kobra. Sebab utamanya adalah kecenderungan korban tidak sadar kalau telah tergigit ular jenis ini. Penderita baru menyadari jika telah merasakan sesak nafas, sementara racunnya telah menyebar ke seluruh tubuh. Ular ini tergolong pemalu dan sulit di deteksi keberadaannya secara sekilas pandang. Warna gelang-gelang hitam putih, dan ukurannya biasanya tidak melebihi besar ibu jari, namun hati-hati, jangan pernah menyentuh ular ini tanpa menggunakan tongkat. Ular Welang senang berdiam di dinding-dinding gua.

Gas-Gas Berbahaya


Gua dengan segala ketenangannya, ternyata menyimpan banyak misteri didalamnya. Selain pesona estetika dan potensi ilmiahnya, gua juga menyembunyikan banyak bahaya bagi siapa saja yang menelusurinya. Salah satu yang paling menakutkan selain banjir adalah gas beracun.

Keberadaan gas-gas berbahaya ini seringkali tidak disadari oleh penelusur gua, selain tidak berbau dan berwarna, kebanyakan penelusur gua baru menyadarinya ketika telah merasa sesak nafas sementara penelusuran telah menempuh jarak yang cukup jauh dari mulut gua.

Gas beracun ini ada yang terbentuk secara alami maupun karena pengaruh kunjungan si penelusur itu sendiri. Gas beracun yang terbentuk secara alami diantaranya muncul karena proses pembusukan sampah (gas rawa/metan), gas yang muncul karena akumulasi kotoran kelelawar/guano (gas amoniak), gas yang muncul karena proses pengeringan lumpur berupa karbonmonoksida (CO), hingga gas nitrogen yang mampu membuat lemas mendadak yang dilepaskan oleh akar-akar tanaman dipermukaan yang menembus atap-atap gua. Gas sebagai hasil aktivitas vulkanik, termasuk gas yang mencatat rekor pembunuh paling banyak dibandingkan gas-gas lain (biasanya terdapat pada gua-gua vulkanik).

Pengunjung gua juga mampu menyebabkan timbulnya gas berbahaya, yakni gas karbondioksida (CO2) yang terakumulasi dari pernafasan kita, biasanya terjadi pada gua-gua yang memiliki siklus oksigen buruk, karena tersekat oleh bentukan lorong yang mematah patah secara extreme maupun adanya penyekat lain seperti gundukan lumpur maupun bentukan lorong siphon atau sump. Akumulasi CO2 secara signifikan juga akan terjadi pada gua-gua yang memiliki tingkat kunjung tinggi, seperti gua-gua wisata yang belum memiliki pengaturan ritme pengunjung.

Pengguna lampu karbit juga merupakan salah satu penyumbang gas berbahaya, yakni gas asetilen yang terbentuk karena reaksi karbit dengan air, namun hal ini hanya akan terjadi pada ruangan-ruangan gua yang tersekat dan tidak memiliki fluktuasi udara bagus. Bahaya paling nyata adalah terjadinya ledakan jika akumulasi gas asetilen ini terkena nyala api.

Berdasarkan pengalaman, perokok berat biasanya akan lebih peka terhadap gejala-gejala yang disebabkan gas berbahaya tersebut dibandingkan perokok ringan atau orang yang tidak merokok. Gejala hiperventilasi ini sering terdeteksi ketika tiba-tiba kepala terasa berat dibagian belakang, rasa mengantuk yang amat sangat, dan tubuh terasa lunglai. Pada kondisi lebih parah, perut terasa mual dan bibir terasa seperti kesemutan (dalam kondisi pencahayaan normal akan terlihat kebiruan). Efek berikutnya penderita keracunan gas ini akan muntah, pingsan bahkan bisa mengakibatkan istirahat untuk selamanya.

Antisipasi yang diperlukan adalah membawa pendeteksi gas berbahaya, yang paling sederhana adalah dengan indikasi nyala lilin atau korek api. Membawa tabung oksigen dalam setiap penelusuran merupakan tindakan yang lebih bijak, namun keluar dari gua secepatnya (tanpa terburu-buru dan grusa-grusu) akan menjadi lebih bijak lagi.

Waspadalah….!!!!

Ternyata Ia Memang Ada..

Lubang goanya terletak di dasar lembah, jauh dari jangkauan manusia pada umumnya, bahkan petani di sekitar goa itu enggan mengunjunginya. Ada mitos di sana, tentang ular besar yang menghuni goa.

Pagi itu, kami bergerak lambat, tertatih menyusuri alur sungai kering untuk menggapai mulut goa. Rimbunan ilalang di kanan kiri membuat lengan yang tak terlindungi gatal-gatal. Kami tiba di mulut goa ketika coverall sudah basah oleh keringat. Menyingkat waktu, kami yang terdiri dari tiga orang caver dan dua orang penduduk lokal mulai memasuki goa. Pagi itu kami harus memetakan lorong dan mengidentifikasi potensi yang ada, karenanya kami bergerak lambat.

Bau guano menyeruak, cericit kelelawar mulai ramai terdengar di depan sana. Namun, pandangan kami dibatasi kegelapan. Uap tubuh kami yang mulai basah oleh air goa mulai membutakan pandangan. Sial, atap goanya terus menurun, memaksa kami untuk tiarap, merayap...dan terus merayap. Kadang, kami harus dalam-dalam membenamkan kepala ke air berlumpur (plus kotoran kelelawar) agar bisa maju ke depan.

Lorong terus bertambah meter demi meter, kami masih terus merayap sambil mencatat arah kompas, besar kemiringan, tinggi atap, lebar lorong juga membuat sketsa tentang apa saja yang ada setiap lorong. Hingga akhirnya kami berhenti, kini atap benar-benar telah menyentuh permukaan air. Untuk melewatinya kami harus sedikit menyelam dan berharap ada lorong di depan yang membuat kami bisa bernafas.

Saya pun mencoba untuk pertama kali, lampu karbit yang saya gunakan langsung mati ketika bersentuhan dengan air. Headlamp cadangan tidak membantu banyak untuk melihat kedepan. Akhirnya saya mundur untuk memperbaiki lampu yang mulai redup.
"Biar saya duluan aja mas," seorang rekan tiba-tiba menawarkan diri.
"Yup...ati2, aku benerin lampu dulu," ujar saya.
Dengan sigap rekan yang masih muda itu segera menyelam, sementara saya duduk tepat di depan lorong berair itu (sering dikenal dengan istilah sump oleh para penelusur goa).

"Bagaimana...ada lorong?" saya berteriak melalui celah kecil yang saya yakini tembus ke lorong pasca sump itu.
"Ada...ada...luas mas !!!" ujar rekan saya. Tanpa saya sadari ada sesuatu yang menekan kaki kiri saya (waktu itu setengah duduk, setengah berbaring dengan kaki selonjor ke depan). Saya diam saja, paling2 kaki teman saya yang hendak kembali keluar dari sump.

Saya terkejut ketika mendapati dari ujung kaki kiri hingga paha saya sudah tertindih benda yang berat dan dingin. Secara reflek saya mencoba mengalihkan benda, dengan mendorongnya memakai kedua tangan. Saya kaget ketika mendapati apa yang saya pegang ternyata bukan kaki, melainkan sesosok tubuh memanjang, bergerak menggeser dengan cepat bergerak melingkar ke bagian belakang tubuh saya. Spontan saya berteriak sambil berusaha melepaskan diri. Sekilas, dalam gelap rekan saya yang tadi menyelam, keluar dari sump dengan tergopoh-gopoh dan mencoba berlari ke arah lorong tempat kami datang.

"Balik-balik...cepat mundur!!!" teriak saya panik, begitu terbebas saya langsung berlari setengah merayap....